Apa yang terjadi (?)

Share:
Seperti biasanya, pagi ini aku berangkat kerja menggunakan Kereta/commuterline dari St. Ps. Minggu- St. Sudirman.

Pagi ini aku berangkat dari rumah pukul 6:30 menuju St. Pasar Minggu. Sesampainya di St. Pasar Minggu, aku berjalan lurus kedepan menuju ujung peron stasiun. Naik kereta digerbong paling depan saja, pikirku. Padahal biasanya aku naik digerbong terakhir rangkaian kereta. Alasanku memilih didepan adalah, mungkin dirangkaian depan tidak sepenuh rangkaian belakang. 
(Gerbong depan & belakang khusus untuk wanita.)


Pukul 07:00, tibalah kereta jurusan Bogor-Duri. Ya, ini adalah kereta yg aku tunggu, yang melewati dan berhenti di St. Sudirman.

Ada sekitar 10 orang wanita bersamaku. Tentu mereka ingin berada di gerbong depan khusus wanita juga.Tidak seperti digerbong belakang. Ada belasan, bahkan puluhan wanita yang menunggu.

Ketika rangkaian kereta itu tiba dan berhenti dihadapanku. Pintu otomatisnya perlahan mulai terbuka. Dan.... betapa sedihnya aku karena keadaannya sangat penuh sesak. Hanya sekitar 5 orang yang turun. Lalu ada 10 orang yang ingin naik. Apa bisa? Tentu saja tidak! Tapi ada beberapa orang yang berhasil naik dengan bersusah payah dan menahan diri sekuat tenaga agar tidak terjepit pintu kereta.

Beberapa saat kemudian sang masinis melakukan uji coba penutupan pintu kereta dan kemudian siap berangkat kembali. Sebelum kereta itu jalan, tiba-tiba saja masinis tampan itu keluar dari tempatnya, melihatku dan menyuruhku agar menunggu kereta selanjutnya saja. Ya, akupun memilih untuk menunggu kereta selanjutnya. Toh, naik kereta yg ini juga gak bisa kan! :3

10 menit berlalu.
Datang kembali rangkaian kereta Ps. Minggu- Sudirman.
Aku bergegas dari tempat dudukku. Berharap kereta tidak penuh sesak seperti tadi. Jika aku berharap keretanya kosong, sungguh mustahil :\
Pintu kereta terbuka. Tak ada satupun yang turun. Dan lagi, aku harus menunggu kereta selanjutnya lagi.

15 menit kemudian.
Aku benar-benar bedoa agar bisa naik rangkaian kali ini, karena sudah hampir jam 7:30. Aku sampai kantor bisa lewat dari jam 8 kalau harus menunggu-menunggu lagi.

Pukul 7:25 kereta datang kembali.
Alhamdulillah, aku bisa naik. Ada sedikit ruang untukku dalam gerbong ini. Tapi tanganku harus pegangan keatas menahan diri agar tidak terdorong dan terjepit pintu. Ya, aku benar-benar berada diujung pintu kereta.

Setelah tidak ada penumpang naik dan turun, pintu tertutup dan kereta kembali berangkat. Akupun bisa bernapas.

Kereta melaju, aku mulai bergeser kedalam untuk memberikan jalan kepada penumpang yang ingin turun. Alhamdulillah, kini aku berada  agak kedalam di dekat tiang. Jadi aku bisa pegangan. Sepertinya akupun tidak perlu ikut turun-kemudian naik lagi jika banyak penumpang yang ingin turun, karena posisiku sudah terbilang aman.
Riweh juga kalau harus mengalah turun kemudian naik lagi. Karena setiap pagi stasiun tidak pernah sepi.

Sesampainya di St. Cawang, suasana agak ricuh. Mereka yang ingin turun di St. Tebet sulit bergeser keluar. Aku tetap pada posisiku. Tanggankupun masih berpegang pada tiang penyangga. Disini, jangankan bergerak, bernapas saja susah!

Beberapa saat, kereta singgah di St. Tebet. Pintu terbuka, Penumpang yang ingin turun mulai gaduh, saling mendorong agar mereka bisa keluar. Keselamatan oranglain tidak dihiraukan.

Dadaku terasa sakit dan sesak, tertekan tas ranselku yang memang sengaja aku hadapkan didepan. Mereka mendorong, benar-benar mendorong. Memaksa agar bisa keluar gerbong. Kini Posisiku mulai bergeser. Aku mulai terdorong hampir kedekat pintu, tapi jemari tanganku masih memegang kuat tiang itu. Tapi rupanya aku tak cukup kuat untuk bertahan lama. Sekarang Aku benar-benar terdorong hingga pintu.
Kalau disaat seperti ini memang harus kuat-kuat pegangan, kalau tidak resikonya sangat berbahaya. Kata orangpun demikian.

Ditengah perjuanganku menahan dorongan, tiba-tiba saja ada seorang wanita berkerudung kuning yang kira-kira berumur 27th mendorong dan memaksaku melepas peganganku, dengan nada ucapan yang tidak enak didengar. Dan akhirnya aku melepas peganganku, kemudian terdorong keluar gerbong.
Tubuhku langsung gemetaran. Lemas sekali rasanya. Tapi Alhamdulillah aku tidak sampai terjatuh sewaktu terdorong tadi.
Kini aku berada diluar, didepan pintu bersama banyak orang yang ingin naik kereta juga.
Wanita berkerudung kuning tadi juga sudah berhasil keluar. Dia berada dihadapanku, kemudian berjalan sembari menabrakan bahunya padaku. Astaghfirullah.

Aku melemah.
Entah apa yang kurasakan saat ini.

Aku tak sanggup jika naik, masuk kedalam gerbong itu lagi. Tentu aku akan kalah, kalah cepat, kalah kuat dengan mereka yang ingin naik juga.

Aku putuskan untuk menunggu kereta selanjutnya.

Tubuhku masih gemetar, lemas sekali.
Aku duduk. Kepala kutundukkan sembari memeluk tas ranselku.
Ada sesuatu yang kurasakan. Entah apa itu. Dan mataku, seperti ada cairan yang ingin keluar.  Ahh, tidak!
Aku menahannya, tapi aku terlalu  lemah.

Aku masih menundukkan kepala, jemari tanganku yang menggenggam tissu juga kuletakkan diwajahku.
Tiba-tiba ada genangan air mata.

Aku menahannya, dan masih terus menahannya, tapi... Tangisanku malah pecah.

Aku membalikan badan kebelakang. Berharap tak ada orang yang melihatku. Tapi stasiun ini terlalu ramai jika ingin menyembunyikan tetasan air mata.
Kau malu? Tentu!

Dalam sekejap, tissuku sudah basah. Matapun memerah parah. Aku benar-benar menangis sesak. Menangisi apa?  Entahlah.

Aku masih menguatkan diriku sendiri. Menghapus tetesan air itu, dan berharap agar tidak mengalir lagi.

Tibalah saat kereta jurusan St. Sudirman lewat kambali. Aku ingin naik, tapi keadaan ini tidak memungkinkan. Dan akhirnya kubiarkan kereta itu lewat.

Aku bergegas ke toilet untuk membasuh wajahku. Aku tau, mereka pasti melihat merah di mataku dan genangan air mata itu.
Aku tak peduli.

Sesampainya ditoilet tangisanku pecah lagi. Dan tangisan itu makin menjadi ketika ada sesuatu yang melintas dalam benakku. Entah apa yang kini harus kulakukan.

Aku seperti membutuhkan seseorang ada disampingku, sekarang. Menguat aku, menenangkanku, menghapus air mataku, membangkitkan aku dalam keadaan ini. Tapi aku sadar, aku disini sendirian.

Jam menunjukkan pukul 8:10. Seharusnya aku sudah sampai dikantor.

Aku masih menangis, dan aku putuskan untuk datang ke musholah.

Disini, aku tumpahkan semuanya.
Aku belum bisa menenangkan diriku, bahkan setelah air wudhu itu membasahiku.
Ya Allah, ada apa dengan hatiku.

Aku teringat ciuman ibu di pipi kanan dan kiriku tadi pagi ketika  ingin berangkat kerja.
Rasanya aku ingin pulang.

Aku tunaikan sholat sunnah, walau dengan genangan air mata....
Perlahan, hatiku mulai tenang. Air mataku juga tak menetes lagi. Hanya sisa-sisanya yang masih menggenang. Kubasuh wajahku dengan lantunan doa kepada-Nya.

Setelah aku benar-benar tenang, pukul 8:30, kuberanikan diri kembali ke peron stasiun. Bagaimanapun juga aku harus masuk kerja hari ini.

Keadaan stasiun masih ramai, kereta juga masih penuh, tapi alhamdulillah tak begitu sesak seperti tadi.

Dengan mata yang masih memerah, aku sampai dikantor pukul 8:50.

Sesampainya dikantor, seseorang bertanya padaku, "Memang jalanan macet banget, ya?" - Aku hanya diam.
***

Sampai saat ini, aku masih bertanya-tanya pada diriku sendiri. "Apa yang sebenarnya terjadi tadi pagi?"





17 comments:

  1. Salah satu hal yang membuatku ogah tinggal di ibukota ya seperti itu Mbak >.< yang sabar ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mau bagaimana lagi. Kota ini memang terlalu keras :|
      Terima ksh mba dweedy :)

      Delete
  2. membaca ini membuatku jadi makin menghargai para pahlawan keluarga, pencari nafkah yg tiap hr berjejalan di kereta menuju kantor. suamiku jg naik kereta k kantor..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apapun harus dilakukan untuk menghidupi keluarga.
      Ini belum ada apa-apanya dengan perjuangan yang lebih mati-matian :(

      Delete
  3. cerintnya bkin, gregetan .,, apalgi yg soal desak2n dan jilbab kuning ... hmmmm ,,,,,
    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuma bisa sabar aja sih, Mas :)

      Delete
    2. emg bgtu sih klo di kereta ,,, sy aja klo lwat stasiun tebet ,,,, hmmmm penuhnya minta ampun deh ,,, :D

      Delete
  4. edunnn yang sabar yah mbak ceritanya sungguh mengharukan dan memang resikonya bagitu kalo naik angkutan umum pasti desak desakan dan parahnya lagi pasti ada aja orang yang maunya menang sndiri kayak cewek yang jilbab kuning :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insha Allah selalu dlm kesabaran.
      Memang begini adanya. Naik kereta dipagi hari harus kuat. Kuat HATI dan Kuat Tenaga :D

      Delete
  5. Nggak kepikiran kalau itu aku mbak. Mungkin emosi mengalahkan rasa sabar :-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagaimanapun juga kita harus menahan diri..
      Cukup senyum aja.
      hihiii....

      Delete
  6. lah nangis kenapa nur? ah kamu perasaan galau tiap hari :|

    ReplyDelete
  7. ada typo nih---> .Tanggankupun masih...
    btw, nice story

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya.
Jangan lupa tinggalkan komentarmu, ya..
Tiada kesan tanpa komentar yang kau tinggalkan. ^,^